Sabtu, 14 Oktober 2017

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI UMUM
“ANALISIS EKOSISTEM”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Biologi Umum




Disusun Oleh:
Nama           :  Marwati
NIM             :  4442160020
Kelas           : I B
Kelompok    : 5 (Lima)




JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2016





 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap jenis hayati memiliki fungsi dalam melestarikan ekosistem yang ditempatinya, maka sudah seyogyanyalah bahwa setiap jenis hayati harus tetap dipertahankan keberadaan dan fungsinya. Namun demikian, di antara sedemikian banyak jenis hayati yang terdapat di bumi ini, beberapa kelompok di antaranya juga ada perubahan lingkungan pendukungnya akan menjadi rawan punah. Kelompok hayati rawan punah tersebut antara lain yang bersifat endemik, migrant,
pemangsa puncak, megaherbivora dan berbiak dalam kelompok. Oleh karena itu
jenis hayati yang termasuk dalam kelompok rawan punah perlu tetap memiliki habitat dengan luasan yang cukup dalam bentuk kawasan konservasi. (Sulistyadi 2010)
Faktor yang mempengaruhi pada suatu ekosistem ada 2 yaitu factor biotik dan factor abiotik. Factor biotik adalah semua lingkungan yang terdiri dari komponen-komponen mahluk hidup dipermukaan bumi. Sedangkan factor abiotic itu sendiri yaitu semua benda mati yag ada dipermukaan bumi yang bermanfaat dan berpengaruh dalam kehidupan manusia serta mahluk hidup lainnya. Dalam pengamatan ini kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi setiap komponen yang ada pada ekosistem dilingkungan kampus. Antara populasi yang satu dengan populasi yang lain selalu terjadi interaksi secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian terjadilah suatu kehidupan komunitas. Dalam suatu komunitas senantiasa terdapat tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Makhluk hidup tidak hanya tergantung pada makhluk lain tetapi juga pada makhluk yang tak hidup dengan demikian akan membentuk ekosistem.
Ekosistem merupakan suatu proses hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Bisa terjadi di tempat yang ternaungi maupun yang tidak ternaungi. Cara membedakan ekosistem yang ternanungi dan yang tidak ternaungi biasanya bisa menggunakan alat-alat khusus, seperti lux meter dan thermometer. Biasanya antara ekosistem satu dengan ekosistem lainnya berbeda. Tergantung dengan suhu dan cahaya yang didapat.
1.2 Tujuan
1.Mengamati dan mengidentifikasi komponen biotik dan abiotic pada beberapa ekosistem terrestrial
2.Mengetahui cara penggunaan alat-alat pengukuran komponen biotik dan abiotik pada beberapa ekosistem terrestrial
3.Mengenal perbedaan dan persamaan berbagai keadaan ekosistem terestrial


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ekosistem
Pengertian ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk dikarenakan hubungan timbal balik yang tidak dapat terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem dapat juga dikatakan sebagai suatu tatanan kesatuan secara utuh serta menyeluruh antara unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari unit biosistem yang melibatkan hubungan interaksi timbal balik antara organisme serta lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju struktur biotik tertentu sehingga terjadi siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari adalah sumber dari semua energi yang ada dalam ekosistem. (Anonim 2010)
Ekosistem dibentuk oleh kumpulan berbagai macam makhluk hidup beserta benda-benda tak hidup. Semua makhluk hidup yang menyusun suatu ekosistem disebut komponen biotik. Sedangkan benda-benda tak hidup dalam suatu ekosistem disebut komponen abiotikDalam suatu ekosistem, hubungan antar komponen berlangsung sangat erat dan saling memengaruhi. Oleh karena itu gangguan atau kerusakan pada salah satu komponen dapat menyebabkan kerusakan seluruh ekosistem. Ilmu yang mempelajari ekosistem disebut Ekologi. Ekologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos dan logosOikos berarti rumah atau tempat tinggal, dan logos artinya ilmu. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 – 1914). Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70-an. Akan tetapi, ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap cabang biologinya. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. (Firdaus 2010)

2.2 Komponen Pembentuk Ekosistem
 Komponen pembentuk ekosistem antara lain, yaitu  komponen abiotic dan biotik. Abiotik atau komponen tak hidup merupakan komponen fisik dan kimia yang medium atau substrat sebagai tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar dari komponen abiotik memiliki beragam variasi dalam ruang dan waktu. Komponen abiotik berupa bahan organik, senyawa anorganik, serta faktor yang memengaruhi distribusi organisme, antara lain: Suhu, air, garam, cahaya matahari, tanah, batu, dan iklim (Anonim 2010).
Sedangkan komponen biotik atau komponen hidup merupakan suatu komponen yang menyusun ekosistem selain komponen abiotik. Komponen biotik juga meliputi semua makhluk hidup yang terdapat dalam ekosistem.Berdasarkan fungsinya, makhluk hidup dibagi menjadi tiga, yaitu:  Produsen, adalah makhluk hidup yang dapat menghasilkan makanan sendiri. Yang  termasuk  dalam kelompok  ini adalah  tumbuhan hijau atau  tumbuhan yang mempunyai klorofil serta organisme autotrof. Konsumen, adalah makhluk hidup yang memperoleh energi dari bahan makanan yang dibuat oleh produsen. Yang  termasuk  dalam kelompok  ini adalah manusia dan hewan. Karena tidak dapat membuat makanan sendiri dan selalu bergantung pada makhluk hidup lain, maka konsumen bersifat  heterotrof. Berdasarkan jenis makanannya, konsumen dapat dibagi menjadi tiga jenis:  Herbivora, konsumen yang hanya mengonsumsi tumbuhan dan merupakan konsumen tingkat pertama. Karnivora, organisme pemakan daging saja dan juga memakan hewan herbivora sehingga disebut dengan konsumen kedua. Dan omnivora, pemakan segala (tumbuhan dan hewan). (Firdaus 2010)

2.3 Ekosistem Alami dan Ekosistem Buatan
Terdapat dua bentuk ekosistem berdasarkan ada atau tidaknya campur tangan manusia, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan. Interaksi antara dua komponen ini akan membentuk suatu rantai makanan yang awalnya sederhana tetapi lambat laun menjadi lebih kompleks. Dengan demikian, lingkungan dalam habitat tersebut juga menjadi lebih kompleks. Manakal habitat tersebut tidak tersentuh oleh manusia, maka habitat itu pada akhirnya akan membentuk suatu ekosistem yang bersifat alami dan stabil. Bentuk ekosistem seperti ini disebut ekosistem alami. Contoh ekosistem alami adalah hutan tropis yang memiliki keragaman hayati tumbuhan dan hewan yang sangat tinggi dengan curah hujan yang tinggi dan dicirikan dengan adanya pohon-pohon yang tinggi.
Namun bila lingkungan tersebut mendapat sentuhan manusia secara terus-menerus dan terjadi perubahan dalam habitat, maka akan berubah menjadi ekosistem buatan. Dalam kondisi terrestrial terdapat ekosistem buatan seperti kolam, aquarium, dan ekosistem pertanian. Adanya campur tangan manusia melalui proses-proses pengelolaan lahan, pengairan, penyiangan, pemupukan, penyemprotan pestisida, panen dan pembakaran. (Sember 2009)

2.4 Manusia Dengan Ekosistem
 Manusia adalah salah satu komponen lingkungan hidup, yang sangat berbeda dengan komponen komponen lingkungan lainnya. Perbedaan yang sangat hakiki dengan mahluk hidup lainnya ialah, manusia memiliki akal atau kecerdikan. Sebagai homo sapiens, spesias ini mempunyai peran yang begitu dominan dalam kehidupan ekologis bumi. Sebagai mahluk yang dominan, manusia banyak menentukan corak kehidupan ekosistem. Ia dapat menaklukan ekosistem alamiah satu dengan yang lain, menjelajah keseluruh bagian ekosistem bumi jagad raya, membuat ekosistem dibanyak tempat di bumi, seperti gedung-gedung, kawasan-kawasan industry, pemukiman, kota, desa, pertanian dan sebagainya. Ini disebut dengan ekosistem buatan yang bersifat fisik.
Selain menciptakan ekosistem yang bersifat fisik, manusia mampu pula menciptakan ekosistem nonfisik dalam berbagai corak, kepentingan, kebiasaan, nilai, adat istiadat, keyakinan, pandangan hidup dan tata kelakuan lain. Kedalam ekosistem inilah kita mengenal berbagai ekosistem seperti ekosistem politik, ekosistem agama, ekosistem ekonomi, ekosistem kenudayaan dan ekosistem sebagainya. (Siahan 2004)








BAB III
METEDOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
          Praktikum tentang “Analisis Ekosistem” ini dilaksanakan pada hari Senin, 28 November 2016 pukul 13:00 s/d 14:30 dan bertempat di Laboratorium Bioteknologi Agroekoteknologi, Fakultas Pertania, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan
         Alat dan bahan yang kita gunakan pada praktikum ini antaralain yaitu hvs, atk, lux meter, dan thermometer

3.2 Cara Kerja
1.Disediakan lux meter dan thermomete
2. Dijelaskan tentang cara kerja lux meter dan thermometer
3. Disiapkan hvs dan atk untuk observasi
4. Diamati ekositem pada lingkuangan kampus, yaitu ditempat yang ternanungi dan tidak ternaungi
5. Dicatat apa saja biota yang ada ditempat tersebut












BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Faktor Biotik
No
Lokasi Pengamatan
Jenis Biota
1.
Taman masjid yang tidak ternanungi pohon
Capung, belalang, nurung pipit, semut, kupu-kupu, rumput jepang, pohon palem, bunga kamboja, bunga kertas,
2.
Taman masjid yang ternaungi pohon
Lalat, bunglon, kumbang, semut, kupu-kupu, nyamuk, keong, kucing, rumput, lumut, rumput gajah.

Tabel 1.2 Hasil Pengamatan Faktor Abiotik

No

Faktor Abiotik
Nama Alat Pengukur

Lokasi Pengamatan
Waktu Pengamatan
Hasil Pengamatan

1.

Suhu

Thermometer
Taman masjid yang tidak ternanungi pohon
13:50
33oC
Taman masjid yang ternaungi pohon
13:50
31oC

2.

Intensitas cahaya

Lux Meter

Taman masjid yang tidak ternanungi pohon
13:50
1 lux
Taman masjid yang ternaungi pohon
13:50
1035 lux

4.2 Pembahasan
         Penelitian dilakukan di taman masjid kampus, dan dibagi dua bagian. Taman masjid yang tidak ternanugi pohon dan taman masjid yang ternanungi pohon. Yang dimaksud dengan tempat yang ternanungi dan yang tidak ternaungi disini ialah tempat yang secara langsung terkena matahari dan tempat yang hanya secelah dari bagian pohon atau bangunan lain yang terkena matahari. Dalam penelitian ini alat yang digunakan berupa thermometer yang digunakan untuk mengukur suhu, dan juga lux meter yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya. Prinsip kerja thermometer yaitu dilihat dari memuainya air raksa. Sedangkan lux meter yaitu dengan cara jika tempat yang tidak ternaungi maka langsung arahkan lux meter kearah cahaya matahari dan menggunakan kisaran runch yang A, karena angka yang didapat sudah langsung satuan, bukan bilangan decimal sehingga memudahkan kita dalam penelitian.
Hasil yang didapat dari pengamatan biotik atau semua mahluk hidup yang ada disekitar lingkungan taman masjid yang tidak ternaungi pohon antara lain, capung (bisa hidup di tempat yang ternaungi maupun yang tidak), belalang (karena hidup dirumput yang ada di tempat yang tidak ternaungi), burung pipit (karena memudahkan untuk mencari makan), semut (bisa hidup dimana saja), kupu-kupu, rumput jepang(lebih suka tempat yang terang dibanding gelap), pohon palem (tahan dengan cuaca panas, walaupun tanahnya kering), bunga kamboja, dan bunga kertas. Sedangkan biota yang ada di taman masjid yang ternanungi pohon antara lain, lalat (lebih suka tempat yang lembab, karenan memudahkan mencari makan), bunglon (karena untuk melindungi diri dari serangan musuh), kumbang, semut, kupu-kupu, nyamuk (lebih suka ditempat yang gelap, karena agar lebih mudah berkembang biak dan mencari mangsa), keong (lebih suka ditempat yang gelap dan lembab), kucing (meneduh dari teriknya sinar matahari, karena dalam lingkungan yang tidak ternanungi kucing akan tetap hidup), rumput gajah( lebih banyak tumbuh di tempat yang basah atau lembab), dan lumut (memudahkan dalam berkembang biak).
Dan hasil yang didapat dari pengamatan abiotic atau komponen yang tidak hidup yaitu antara lain, suhu dan intensitas cahaya. Suhu yang didapat di taman masjid yang tidak ternanungi yaitu sekitar 33oC, sedangkan ditaman masjid yang ternanungi yaitu 31oC, karena praktikum dilakukan pada pukul 13:50 dan juga sinar matahari sangat terik. Dan intensitas cahaya yang didapat dari taman masjid yang tidak ternanungi yaitu sekitar 1 lux, sedangkan di taman masjid yang ternanungi yaitu sekitar 1,035 lux.
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Ekosistem merupakan proses hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya. Komponen ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu komponen abiotic dan biotik. Komponen abiotic yaitu komponen fisik dan kimia yang medium atau substrat sebagai tempat berlangsungnya kehidupan atau lingkungan tempat hidup. Sedangkan komponen abiotic adalah suatu komponen yang menyusun ekosistem selain komponen abiotik. Bentuk ekosistem juga terbagi menjadi dua, yaitu ekosistem alami dan ekosistem buatan. Ekosistem alami yaitu ekosistem yang terbentuk tanpa campur tangan manusia, sedangkan ekosistem buatan adalah ekosistem yang terbentuk melalui campur tangan manusia.

5.2 Saran
Pada saat praktikum sebaiknya praktikan harus benar-benar memperhatikan asistem lab yang sedang menjelaskan, sehingga praktikan akan paham tentang cara menggunakan termoter dan lux meter, selain itu juga praktikan akan pahan tentang biota yang ada dilingkungan yang sedang dijelaskan.
       





NB: Kalo mau daftar pustakanya, langsung koment aja yaa, atau bisa langsung email  ke dreamsdiary21@gmail.com

Kamis, 28 September 2017

Laporan Praktikum Biologi Umum - Pengamatan Sel Gabus Pada Batang Singkong

LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI UMUM
“PENGAMATAN SEL GABUS PADA BATANG SINGKONG”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Biologi Umum



Disusun oleh:
Nama           :  Marwati
NIM             :  4442160020
Kelas            : I B
Kelompok    : 5 (Lima)





JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2016



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
        Kegiatan praktikum dilaksanakan agar siswa mendapat pengalaman langsung. Pengalaman langsung ini akan memberikan kesan yang lebih bermakna mengenai informasi dan gagasan. Salah satu standar kompetensi dalam mata pelajaran biologi yaitu memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan serta penerapannya pada sains, teknologi, lingkungan dan masyarakat (salingtemas) dengan salah satu kompetensi dasarnya yaitu mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkan dengan fungsinya. Kompetensi tersebut dapat dicapai siswa salah satunya dengan melaksanakan kegiatan praktikum mengamati jaringan tumbuhan. (Indasari. 2013)
        Biologi adalah ilmu pengetahuan yang didasarkan pada hasil pengamatan atau observasi. Dalam percobaan ini akan dilakukan penelitian sel gabus pada batang singkong. Pengamatan sel gabus dengan menggunakan mikroskop. Dengan meletakkan sel gabus pada batang singkong dipreparat kemudian diletakkan kemeja mikroskop untuk diteliti tentang keadaan sel gabus.
         Sel merupakan organisme terkecil dari suatu makhluk hidup.Semua fungsi kehidupan di atur dalam suatu sel dan berlangsung didalamnya. Sel juga terbagi menjadi 2 yaitu: sel eukariotik, dan sel prokariotik. Sel prokariota beradaptasi dengan kehidupan uniselular, sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi untuk hidup saling kerja sama dalam lingkup yang rapi,multiseluler.Bentuk sel ada yang pipih, memanjang, sangat panjang dan bikonkaf. Sedang ukuran dari sel pada umumnya microskopis(sangat kecil). Pada manusia diameter rata-rata kira-kira 10µ,dan tidak bisa dilihat tanpa bantuan mikroskop (tidak bisa dilihat dengan mata telanjang).
Semua makhluk hidup dari yang terkecil sampai yang terbesar tersusun dari sel. Makhluk hidup ada yang hanya terdiri satu sel, ada pula tersusun banyak sel. Sel dapat dikatakan sebagai unit atau kesatuan dasar kehidupan. Apabila kita menelusuri secara hierarkhi, tampak bahwa sekelompok sel yang sama bentuk dan fungsinya akan membentuk jaringan, sekelompok jaringan membentuk organ, dan kelompok organ menyusun makhluk hidup. Sel-sel dapat berbeda dalam bentuk, ukuran, dan fungsi, tetapi secara struktur semua sel sama.
Walaupun ada sel yang dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop, tetapi pada umumnya berukuran mikroskopis, dan sel hewan lebih kecil daripada sel tumbuhan. Karena hamper semua sel sangat kecil, penemuan dan penelitian tentang sel tidak dapat tejadi sampai ditemukannya lensa dan mikroskop.


1.2 Tujuan
       Praktikum ini bertujuan untuk :
1.Untuk memahami dan mengetahui bagiab-bagian di sel gabus pada batang singkong
2.Untuk mengetahui bentuk sel gabus

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaringan Tumbuhan
        Jaringan merupakan sekelompok sel dengan ciri yang serupa dalam hal bentuk, fungsi, maupun sifat-sifatnya. Berdasarkan kemampuannya membelah, jaringan tumbuhan dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu jaringan meristem dan jaringan permanen.
     a. Jaringan Meristem
           Jaringan meristem atau jaringan muda merupakan jaringan yang terdiri dari sekolompok sel tumbuhan yang aktif membelah. Ciri-ciri sel meristem, yaitu ukuran selnya kecil, berdinding tipis, memiliki nucleus yang relative besar, vakuola berukuran kecil dan kaya akan sitoplasma, serta selnya berbentuk kuboid atau prismatik.
          Ada bagian meristem yang tetap mempertahankan sifat meristem (sebagai jaringan muda selamanya) sehinggamenjadi bagain yang berbeda. Sementara itu, pada waktu yang bersamaan bagaian meristem yang lain menambah sel-sel baru bagian lain tumbuhan. Pada setiap meristem ada sel-sel tertentu yang membelah diri sedemikian rupa. Hal tersebut menyebabkan pada tiap pembelahan, salah satu sel anakan (pemula) tetap berupa meristem, sedangkan sel anakan lain akan mengalami modifikasi. (Aryulina. Dkk. 2006)
           Berdasarkan letaknya dalam tumbuhan, ada 3 macam meristem, yaitu meristem apical, meristem lateral, dan meristem interkaler. Meristem apical terdapat diujung batang dan akar. Meristem iterkaler merupakna bagian dari meristem apical yang terpisah dari ujung (apeks) selama pertumbuhan. Meristem interkalar (antara) terdapat diantara jaringan dewasa, misalnya di pangkal ruas batang rumput. Meristem lateral terdapat pada cambium pembuluh dan cambium gabus.
            Berdasarkan asal terbentuknya, meristem dibedakan menjadi meristem primer dan meristem sekunder.

1. Meristem Primer
Meristem primer adalah meristem yang berkembang dari sel embrional. Meristem primer terdapat misalnya pada kuncup ujung batang dan ujung akar. Meristem primer menyebabkan pertumbuhan primer pada tumbuhan. Pertumbuhan primer memungkinkan akar dan batang bertambah panjang dengan demikian, tumbuhan bertambah tinggi. Meristem primer dapat dibedakan menjadi daerah-daerah dengan tingkat perkembangan sel yang berbeda-beda. Pada ujung batang terdapat meristem apical. Didekat meristem apical ada promeristem dan ujung meristematik lain yang terdiri dari sekolompok sel yang telah mengalami diferensiasi sampai tingkat tertentu. Daerah meristematik di belakang promeristem mempunyai tiga jaringan meristem yaitu protoderma, prokambium, dan meristem dasar. Protoderma akan membentuk epidermis, prokambium akan membentuk jaringan ikatan pembuluh (xilem primer dan floem primer) dan kambium. Meristem dasar akan membentuk jaringan dasar tumbuhan yang mengisi empelur dan korteks seperti parenkima, kolenkima, dan sklerenkima. Tumbuhan monokotil hanya memiliki jaringan primer dan tidak memiliki jaringan sekunder. Pada tumbuhan dikotil terdapat jaringan primer dan jaringan sekunder.
2. Meristem Sekunder
Meristem sekunder adalah meristem yang berkembang dari jaringan dewasa yang telah mengalami diferensiasi dan spesialisasi (sudah terhenti pertumbuhannya) tetapi kembali bersifat embrional. Contoh meristem sekunder adalah kambium gabus yang terdapat pada batang dikotil dan Gymnospermae, yang dapat terbentuk dari sel-sel korteks di bawah epidermis.
Jaringan kambium yang terletak di antara berkas pengangkut (xilem dan floem) pada batang dikotil merupakan meristem sekunder. Sel kambium aktif membelah, ke arah dalam membentuk xilem sekunder dan ke luar membentuk floem sekunder. Akibatnya, batang tumbuhan dikotil bertambah besar. Sebaliknya batang tumbuhan monokotil tidak mempunyai meristem sekunder sehingga tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Itulah mengapa batang monokotil tidak dapat bertambah besar.
      b. Jaringan Dewasa
             Jaringan dewasa merupakan jaringan yang terbentuk dari diferensiasi dan spesialisasi sel-sel hasil pembelahan jaringan meristem. Diferensiasi adalah perubahan bentuk sel yang disesuaikan dengan fungsinya, sedangkan spesialisasi adalah pengkhususan sel untuk mendukung suatu fungsi tertentu. Jaringan dewasa pada umumnya sudah tidak mengalami pertumbuhan lagi atau sementara berhenti pertumbuhannya. Jaringan dewasa ini ada yang disebut sebagai jaringan permanen. Jaringan permanen adalah jaringan yang telah mengalami diferensiasi yang sifatnya tak dapat balik (irreversibel). Pada jaringan permanen sel-selnya tidak lagi mengalami pembelahan. Jaringan dewasa meliputi jaringan epidermis, gabus parenkima, xilem, dan floem. Selain itu ada bagian tumbuhan tertentu yang memiliki jaringan kolenkima dan sklerenkima.
1. Epidermis
Jaringan epidermis ini berada paling luar pada alat-alat tumbuhan primer seperti akar, batang daun, bunga, buah, dan biji. Epidermis tersusun atas satu lapisan sel saja. Bentuknya bermacam-macam, misalnya isodiametris yang memanjang, berlekuk-lekuk, atau menampakkan bentuk lain. Epidermis tersusun sangat rapat sehingga tidak terdapat ruangan-ruangan antarsel. Epidermis merupakan sel hidup karena masih mengandung protoplas, walaupun dalam jumlah sedikit. Terdapat vakuola yang besar di tengah dan tidak mengandung plastida.
a. Jaringan epidermis daun
Jaringan epidermis daun terdapat pada permukaan atas dan bawah daun. Jaringan tersebut tidak berklorofil kecuali pada sel penjaga (sel penutup) stomata. Pada permukaan atas daun terdapat penebalan dinding luar yang tersusun atas zat kuting (turunan senyawa lemak) yang dikenal sebagai kutikula, misalnya pada daun nangka. Selain itu ada yang membentuk lapisan lilin untuk melindungi daun dari air, misalnya pada daun pisang dan daun keladi. Ada pula yang membentuk bulu-bulu halus di permukaan bawah sebagai alat perlindungan, misalnya pada daun durian. Sekelompok sel epidermis membentuk stomata atau mulut daun. Stomata merupakan suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup atau sel penjaga. Melalui mulut daun ini terjadi pertukaran gas.
b. Jaringan epidermis batang
Seperi halnya jaringan epidermis daun, jaringan epidermis batang ada yang mengalami modifikasi membentuk lapisan tebal yang dikenal sebagai kutikula, membentuk bulu sebagai alat perlindungan.
c. Jaringan epidermis akar
Jaringan epidermis akar berfungsi sebagai pelindung dan tempat terjadinya difusi dan osmosis. Epidermis akar sebagian bermodifikasi membentuk tonjolan yang disebut rambut akar dan berfungsi untuk menyerap air tanah.
Stomata adalah celah yang terdapat pada epidermis organ tumbuhan. Pada semua tumbuhan yang berwarna hijau, lapisan epidermis mengandung stomata paling banyak pada daun. Stomata terdiri atas bagian-bagian yaitu sel penutup, bagian celah, sel tetangga, dan ruang udara dalam. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah. Sel penutup dapat terletak sama tinggi dengan permukan epidermis (panerofor) atau lebih rendah dari permukaan epidermis (kriptofor) dan lebih tinggi dari permukaan epidermis (menonjol). Pada tumbuhan dikotil, sel penutup biasanya berbentuk seperti ginjal bila dilihat dari atas. Sedangkan pada tumbuhan rumput-rumputan memiliki struktur khusus dan seragam dengan sel penutup berbentuk seperti halter dan dua sel tetangga terdapat masing-masing di samping sebuah sel penutup.
2. Jaringan Gabus
       Jaringan gabus atau periderma adalah jaringan pelindung yang dibentuk untuk menggantikan epidermis batang dan akar yang telah menebal akibat pertumbuhan sekunder. Jaringan gabus tampak jelas pas tetumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Struktur jaringan gabus terdiri atas felogen (kambium gabus) yang akan membentuk felem (gabus) ke arah luar dan feloderma ke arah dalam. Felogen dapat dihasilkan oleh epidermis, parenkima di bawah epidermis, kolenkima, perisikel, atau parenkima floem, tergantung spesies tumbuhannya. Pada penampang memanjang, sel-sel felogen berbentuk segi empat atau segi banyak dan bersifat meristematis. Sel-sel gabus (felem) dewasa berbentuk hampir prisma, mati, dan dinding selnya berlapis suberin, yaitu sejenis selulosa yang berlemak. Sel-sel feloderma menyerupai sel parenkima, berbentuk kotak dan hidup. Jaringan gabus berfungsi sebagai pelindung tumbuhan dari kehilangan air. Pada tumbuhan gabus (Quercus suber), lapisan gabus dapat bernilai ekonomi, misalnya untuk tutup botol.
3. Parenkima
      Di sebelah dalam epidermis terdapat jaringan parenkima. Jaringan ini terdapat mulai dari sebelah dalam epidermis hingga ke empulur. Parenkima tersusun atas sel-sel bersegi banyak. Antara sel yang satu dengan sel yang lain terdapat ruang antarsel.
Parenkima disebut juga jaringan dasar karena menjadi tempat bagi jaringan-jaringan yang lain. Parenkima terdapat pada akar, batang, dan daun, mengitari jaringan lainnya. Misalnya pada xilem dan floem.
        Selain sebagai jaringan dasar, jaringan parenkima berfungsi sebagai jaringan penghasil dan penyimpan cadangan makanan. Contoh parenkima penghasil makanan adalah parenkima daun yang memiliki kloroplas dan dapat melakukan fotosintesis. Parenkima yang memiliki kloroplas disebut sklerenkima. Hasil-hasil fotosintesis berupa gula diangkut ke parenkima batang atau akar. Di parenkima batang atau akar, hasil-hasil fotosintesis tersebut disusun menjadi bahan organik lain yang lebih kompleks, misalnya tepung, protein, atau lemak. Parenkima batang dan akar pada beberapa tumbuhan berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, misalnya pada ubi jalar (Ipomoea batatas). Ada pula sel parenkima yang menyimpan cadangan makanan pada katiledon (daun lembaga biji) seperti pada kacang buncis (Phaseolus vulgaris).
4. Jaringan Penguat
       Untuk memperkokoh tubuhnya, tumbuhan memerlukan jaringan penguat atau penunjang yang disebut juga sebagai jaringan mekanik. Ada dua macam jaringan penguat pegat yang menyusun tubuh tumbuhan, yaitu kolenima dan sklerenkima. Kolenkima mengandung protoplasma dan dindingnya tidak mengalami signifikasi. Sklerenkima berbeda dari kolenkima, karena sklerenkima tidak mempunyai protoplasma dan dindingnya mengalami penebalan dan zat lignin (lignifikasi).
a. Kolenkima
    Sel kolenkima merupakan sel hidup dan mempunyai sifat mirip parenkima. Sel-selnya ada Yat mengandung kloroplas. Kolenkima umumnya terletak di dekat perukaan dan di bawah epidermis pada batang, tangkai daun, tangkai bunga, dan ibu tulang daun. Kolenkima jarang terdapat pada akar. Sel kolenkima biasanya memanjang sejajar dengan pusat organ tempat kolenkima itu terdapat.
     Dinding sal kolenkima mengandung selulosa, pektin, dan hemiselulosa. Dinding sel kolenkima mengalami penebalan yang tidak merata. Penebalan itu terjadi pada sudut-sudut sel, dan disebut kolenkima sudut.
     Fungsi jaringan kolenkima adalah sebagai penyokong pada bagian tumbuhan muda yang sedang tumbuh dan pada tumbuhan herba.
b. Sklerenkima
     Jaringan sklerenkima terdiri atas sel-sel mati. Dinding sel sklerenkima sangat kuat, tebal, dan mengandung lignin (komponen utama kayu). Dinding sel mempunyai penebalan primer dan kemudian penebalan sekunder oleh zat lignin. Menurut bentuknya, sklerenkima dibagi menjadi dua, yaitu serabut sklerenkima yang berbentuk seperti benang panjang, dan sklereid (sel batu). Sklereid terdapat pada berkas pengangkut, di antara sel-sel parenkima, korteks batang, tangkai daun, akar, buah, dan biji. Pada biji, sklereid sering kali merupakan suatu lapisan yang turut menyusun kulit biji.
    Fungsi sklerenkima adalah menguatkan bagian tumbuhan yang sudah dewasa. Sklerenkima juga melindungi bagian-bagian lunak yang lebih dalam, seperti pada kulit biji jarak, biji kenari dan tempurung kelapa.

5. Jaringan Pengangkut
a. Xilem
     Xilem berfungsi untuk menyalurkan air dan mineral dari akar ke daun. Elemen xilem terdiri dari unsur pembuluh, serabut xilem, dan parenkima xilem. Unsur pembuluh ada dua, yaitu pembuluh kayu (trakea) dan trakeid. Trakea dan trakeid merupakan sel mati, tidak memiliki sitoplasma dan hanya tersisa dinding selnya. Sel-sel tersebut bersambungan sehingga membentuk pembuluh kapiler yang berfungsi sebagai pengangkut air dan mineral. Oleh karena pembuluh yang membentuk berkas, maka dikatakan sebagai berkas pembuluh. Diameter xilem bervariasi tergantung pada spesies tumbuhan, tetapi biasanya 20-700 µm. Dinding xilem mengalami penebalan zat lignin.
  Trakea merupakan bagian yang terpenting pada xilem tumbuhan bunga, trakea terdiri atas sel-sel berbentuk tabung yang berdinding tebal karena adanya lapisan selulosa sekunder dan diperkuat lignin, sebagai bahan pengikat. Diameter trakea biasanya lebih besar daripada diameter trakeid. Ujung selnya yang terbuka disebut perforasi atau lempeng perforasi. Trakea hanya terdapat pada Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) dan tidak terdapat pada Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) kecuali anggota Gnetaceae (golongan melinjo). Bagian trakeid dapat dibedakan dari trakea karena ukurannya lebih kecil, walaupun dinding selnya juga tebal dan berkayu. Rata-rata diameter trakeid ialah 30 µm dan panjangnya mencapai beberapa milimeter. Trakeid terdapat pada semua tumbuhan Spermatophyta. Pada ujung sel trakeid terdapat lubang seperti saringan.
b. Floem
      Floem berfungsi menyalurkan zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan. Pada umumnya elemen floem disusun oleh unsur-unsur tapis, sel pengiris, serabut floem, sklereid, dan parenkima floem. Unsur utama adalah pembuluh  tapis dan parenkima floem. Parenkima floem berfungsi menyimpan cadangan makanan. Persebaran serabut floem sering kali sangat luas dan berfungsi untuk memberi sokongan pada tubuh tumbuhan.
    Pembuluh tapis terdiri atas sel-sel berbentuk silindris dengan diameter 25 µm dan panjang 100-500 µm. Pembuluh tapis mempunyai sitoplasma tanpa inti. Dinding sel  komponen pembuluh tapis tidak berlignin sehingga lebih tipis daripada trakea. Pembuluh tapis adalah pembuluh angkut utama pada jaringan floem. Pembuluh ini bersambungan dan meluas dari pangkal sampai ke ujung tumbuhan. (Hadi, 2015)


2.2  Batang Dikotil Berkayu
        Potongan melintang melalui ranting muda pohon tulip (Liriodendron tulipifera) merupakan contoh yang baik mengenai penataan jaringan pada dikot berkayu yang khas. Ranting ini dibagi menjadi tiga daerah yang berbeda, pepagan (kulit), kayu, dan empelur. Bagian luar daerah  pegannya dilindungi oleh  lapisan sel-sel gabus yg mati yang dijejali suberin. Suberin ialah bahan seperti malam yang dengan nyata mengurangi hilangnya air dari batang. Sangat kaya lubang, yaiutu lentisel, terdapat dalem gabus dan melalui lubang-lubang inilah oksigen dan karbon dioksida dapat dipertukarkan diantara jaringan batang dan udara. Dibawah gabus terdapat lapisan sel-sel parenkim yang menyusun korteks. Sel-sel ini meyimpan makanan sebagaimana juga di akar. Dalam batang yang amat muda (sebelum gabusnya berkembang) sel-sel itu mungkin berkloroplas dan melakukan fotosintesis. Dalam batang yang lebih tua ada meristem yang berkembang diantara korteks dan gabus. Mitosis dalam meristem ini (cambium gabus) menggantikan sel-sel gabus yang aus karena termakan cuaca.
      Bagian dalam gabus itu ditandai daerah jaringan floem dan parenkim secara berselang-seling. Parenkim merupakan bagian akhir pada jejari horizontal yang ada diantara empulur dan pepagan. Jejari ini melakukan tranfor lateral bahan-bahan antara kedua daerah tersebut. Bagian diperbesar dalam pepagan juga berfungsi sebagai daerah cadangan makanan. Jaringan floem terdiri dari berkas-berkas tabung lapisan yang di kelilingi oleh dan di perkuat sel-sel sklerenkim.
     Bagian batas dalam daerah pepagan di tandai meristem, yakni cambium. Karena kegiatannya, maka selalu terbentuk floem baru di daerah papagan selama musim tumbuh. Cambium juga membentuk xylem baru kearah dalam. (Sugiri. 1983)

2.3 Pengertian Jaringan Gabus

         Jaringan gabus (kambium gabus) merupakan kelompok meristem sekunder yang terbentuk dari sel – sel parenkim korteks bagian luar batang. Aktivitas kambium gabus membentuk lapisan sel yang mengalami penebalan oleh senyawa suberin / gabus yang tidak tembus oleh air. Lapisan gabus yang terbentuk dari felogen tersusun rapat dengan lapisan lilin yang siap menggantikan epidermis yang terkelupas akibat aktivitas kambium vaskular. Lapisan ini disebut dengan periderm.

2.4 Ciri-ciri Jaringan Gabus
Jaringan gabus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tersusun atas sel – sel hidup kemudian mati
Lapisan gabus terbentuk dari aktivitas felogen (kambium gabus) yang merupakan meristem sekunder. Felogen membentuk felem ke arah luar, dan feloderm ke arah dalam. Felogen tersusun atas sel – sel hidup, sementara felem merupakan sel –sel yang mati. Felem ini lah yang akan menjadi lapisan gabus pada tumbuhan dikotil.
2. Susunan selnya rapat
Susunan jaringan gabus yang akan membentuk periderm memiliki ciri yang mirip dengan epidermis, yakni sel – selnya tersusun rapat. Hal ini berkaitan dengan fungsi yang akan diemban oleh periderm, menggantikan epidermis yang mengelupas sebagai pelindung tumbuhan.
3. Dinding sel mengalami penebalan oleh zat suberin
Jaringan gabus terbentuk dari kambium gabus yang merupakan sel – sel merismatik berdinding tipis. Kemudian sel- sel yang terbentuk ini akan mengalami penebalan dinding selnya oleh senyawa suberin dan kemudian menjadi sel mati. Senyawa suberin (lilin) ini memiliki sifat tak tembus oleh air, sehingga sangat menguntungkan bagi tumbuhan karena dapat mencegah penguapan.

2.5 Fungsi Jaringan Gabus
Jaringan gabus memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Menggantikan epidermis sebagai pelindung
Lapisan epidermis terbentuk dari pembelahan meristem primer. lapisan epidermis berfungsi sebagai pelindung tumbuhan. namun demikian aktivitas meristem sekunder (kambium) menyebabkan ukuran batang menjadi bertambah. hal demikian membuat lapisan epidermis yang hanya selapis menjadi pecah dan akhirnya mengelupas. peran pelindung yang diemban oleh epidermis akan digantikan oleh jaringan gabus yang terbentuk dari kambium gabus yang terletak di sisi luar korteks batang. kambium gabus merupakan sel – sel parenkim yang bersifat merismatik. aktivitas kambium gabus menghasilkan sel –sel yang mengalami penebalan oleh suberin menjadi lapisan periderm yang berfungsi menggantikan epidermis sebagai pelindung.
2. Mencegah penguapan
Lapisan gabus yang mengalami penebalan oleh zat suberin sangat berarti dalam menjalankan fungsinya sebagai pelindung, terutama dari penguapan. kehilangan air melalui penguapan kerap terjadi pada tumbuhan akibat paparan matahari. karakter zat suberin (lilin) yang tak tembus air membuat air terperangkap di dalam tumbuhan, hal ini sangat menguntungkan bagi tumbuhan terutama tumbuhan yang hidup di daerah kering atau pada saat musim panas.
3. Melindungi dari kerusakan mekanis dan infeksi patogen
Lapisan epidermis yang telah mengelupas akibat pertumbuhan sekunder tak perlu dirisaukan, keberadaan jaringan gabus dapat diandalkan untuk menggantikan lapisn epidermis. dengan penebalan dinding oleh suberin, membuat lapisan jaringan gabus dapat melindungi dari kerusakan mekanis dan juga infeksi patogen yang dapat menyerang tubuh tumbuhan. (Kakak. 2010)













BAB III
METEDOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
          Praktikum tentang “ Pengamatan Sel Gabus pada Batang Singkong” ini dilaksanakan pada hari Senin, 10 Oktober 2016 pukul 13:00 s/d 14:30 dan bertempat di Laboratorium Bioteknologi Agroekoteknologi, Fakultas Pertania, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan
         Alat dan bahan yang kita gunakan pada praktikum ini antaralain yaitu, aquades, mikroskop elektrik, preparat, pipet tetes, batang singkong, dan cutter

3.2 Cara Kerja
      1. Disiapkan alat dan bahan
      2. Potong batang singkong dengan arah membujur
      3. Buat preparat batang singkong membujur
      4. Amati dengan mikroskop
      5. Potong batang singkong dengan arah melintang
      6. Buat preparat batang singkong  melintang
      7. Amati dengan mikrosop
      8. Gambarkan hasi pengamatan








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1.1 Hasil pengamat sel gabus pada batang singkong
No
Gambar
Keterangan
1.
Melintang
Perbesaran 4 x 0,10
Bentuk yang di dapat yaitu pentagonal
Bagian yang terlihat yaitu hanya dinding sel


2.
Membujur
Perbesaran 4 x 0,10
Bentuk yang di dapat yaitu Coccus
Bagian yang terlihat yaitu hanya dinding sel





4.2 Pembahasan
          Sel gabus adalah sel yang sudah mati, tidak memiliki aktifitas, oleh karena itu sel gabus hanya berwarna hitam dan putih. Bentuk sel gabus terdiri dari coccus, pentagonal, dan heksagonal. Tergantung pada cara kita memotongnya. Bagian sel gabus yang terlihat pada mikroskop dengan perbesaran 4 x 0,10 hanya diding sel, sementara bagian yang lain kosong.
         Sayat gabus singkong setipis mungkin secara melintang dan mebujur. Kemudian letakan sayatan pada kaca preparat dan tetesi dengan aquades menggunakan pipet. Letakan preparat dibawah mikroskop kemudian amati, setelah diamati hasil yang didapat dari irisan melintang yaitu pentagonal, sedangkang yang membujur yaitu coccus. Percobaan satu dan dua menggunakan perbesaran yang sama yaitu dengan perbesaran 4 x 0,10.




























BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
      Setelah melaksanakan praktikum ini, saya dapat menyimpulkan bahwa, sel gabus yang diiris secara melintang akan berbeda bentuknya dengan sel gabus yang diiris secara membujur. Sel gabus juga tidak berwarna atau hanya warna hitam dan putih, karena sel gabus merupakan sel yang mati.

5.2 Saran
      Agar ingin mendapatkan hasil yang jelas, ada baiknya pada saat kita iris bagian sel gabus pada singkong usahakan setipis mungkin. Supaya hasil yang akan tampak pada mikroskop jelas.

















DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, Diah.,dkk.Biologi 2. From
     https://books.google.co.id/books?id=S29qVUvoU1oC&pg=PT40&dq=sel+
     gabus &hl=en&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=sel%20gabus&f=false
Hadi,Abdul.2015.Struktur dan fungsi jaringan
     Diakses pada tanggal 15 Oktober 2016, pukul 12:11
Indasari, Ica Nur., J. Djoko Budiono., Wisanti.2013. Wenter Sebagai Warna
     Alternatif Dalam Pewarnaan Media Preparat Jaringan Batang dan
    AkarTumbuhan Pletekan (Ruellia sp.)dan Beluntas (Pluchea indica.Biologi.
    Vol 2 No 1 Hal 35
Kimball, John W. Biologi. Terj. H Siti Soetarmi Tjitrosomo., Nawangsari Sugiri.
    Jakarta :Erlangga. 1983
Pintar,Kakak.2010.Fungsi Jaringan Gabus.
     lengkap/. Diakses pada tanggal 14 Oktober 2016 pukul 10:42
  





LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM “ANALISIS EKOSISTEM” Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Biologi Umum Di...