LAPORAN PRAKTIKUM
BIOLOGI UMUM
“PENGAMATAN SEL GABUS PADA BATANG SINGKONG”
Diajukan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Biologi Umum

Disusun oleh:
Nama : Marwati
NIM : 4442160020
Kelas : I B
Kelompok : 5 (Lima)
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan
praktikum dilaksanakan agar siswa mendapat pengalaman langsung. Pengalaman
langsung ini akan memberikan kesan yang lebih bermakna mengenai informasi dan
gagasan. Salah satu standar kompetensi dalam mata pelajaran biologi yaitu
memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan serta
penerapannya pada sains, teknologi, lingkungan dan masyarakat (salingtemas)
dengan salah satu kompetensi dasarnya yaitu mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan
dan mengaitkan dengan fungsinya. Kompetensi tersebut dapat dicapai siswa salah
satunya dengan melaksanakan kegiatan praktikum mengamati jaringan tumbuhan.
(Indasari. 2013)
Biologi adalah ilmu pengetahuan yang
didasarkan pada hasil pengamatan atau observasi. Dalam percobaan ini akan
dilakukan penelitian sel gabus pada batang singkong. Pengamatan sel gabus
dengan menggunakan mikroskop. Dengan meletakkan sel gabus pada batang singkong
dipreparat kemudian diletakkan kemeja mikroskop untuk diteliti tentang keadaan
sel gabus.
Sel
merupakan organisme terkecil dari suatu makhluk hidup.Semua fungsi kehidupan di
atur dalam suatu sel dan berlangsung didalamnya. Sel juga terbagi menjadi 2
yaitu: sel eukariotik, dan sel prokariotik. Sel prokariota beradaptasi dengan
kehidupan uniselular, sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi untuk hidup
saling kerja sama dalam lingkup yang rapi,multiseluler.Bentuk sel ada yang
pipih, memanjang, sangat panjang dan bikonkaf. Sedang ukuran dari sel pada
umumnya microskopis(sangat kecil). Pada manusia diameter rata-rata kira-kira
10ยต,dan tidak bisa dilihat tanpa bantuan mikroskop (tidak bisa dilihat dengan
mata telanjang).
Semua makhluk hidup dari yang terkecil sampai yang terbesar
tersusun dari sel. Makhluk hidup ada yang hanya terdiri satu sel, ada pula
tersusun banyak sel. Sel dapat dikatakan sebagai unit atau kesatuan dasar
kehidupan. Apabila kita menelusuri secara hierarkhi, tampak bahwa sekelompok
sel yang sama bentuk dan fungsinya akan membentuk jaringan, sekelompok jaringan
membentuk organ, dan kelompok organ menyusun makhluk hidup. Sel-sel dapat
berbeda dalam bentuk, ukuran, dan fungsi, tetapi secara struktur semua sel
sama.
Walaupun ada sel yang dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop,
tetapi pada umumnya berukuran mikroskopis, dan sel hewan lebih kecil daripada
sel tumbuhan. Karena hamper semua sel sangat kecil, penemuan dan penelitian
tentang sel tidak dapat tejadi sampai ditemukannya lensa dan mikroskop.
1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk :
1.Untuk memahami
dan mengetahui bagiab-bagian di sel gabus pada batang singkong
2.Untuk
mengetahui bentuk sel gabus
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Jaringan Tumbuhan
Jaringan merupakan
sekelompok sel dengan ciri yang serupa dalam hal bentuk, fungsi, maupun
sifat-sifatnya. Berdasarkan kemampuannya membelah, jaringan tumbuhan dapat
dikelompokan menjadi dua, yaitu jaringan meristem dan jaringan permanen.
a. Jaringan Meristem
Jaringan meristem atau jaringan muda
merupakan jaringan yang terdiri dari sekolompok sel tumbuhan yang aktif
membelah. Ciri-ciri sel meristem, yaitu ukuran selnya kecil, berdinding tipis,
memiliki nucleus yang relative besar, vakuola berukuran kecil dan kaya akan
sitoplasma, serta selnya berbentuk kuboid atau prismatik.
Ada bagian meristem yang tetap mempertahankan sifat meristem (sebagai
jaringan muda selamanya) sehinggamenjadi bagain yang berbeda. Sementara itu,
pada waktu yang bersamaan bagaian meristem yang lain menambah sel-sel baru
bagian lain tumbuhan. Pada setiap meristem ada sel-sel tertentu yang membelah
diri sedemikian rupa. Hal tersebut menyebabkan pada tiap pembelahan, salah satu
sel anakan (pemula) tetap berupa meristem, sedangkan sel anakan lain akan
mengalami modifikasi. (Aryulina. Dkk. 2006)
Berdasarkan letaknya dalam tumbuhan,
ada 3 macam meristem, yaitu meristem apical, meristem lateral, dan meristem
interkaler. Meristem apical terdapat diujung batang dan akar. Meristem
iterkaler merupakna bagian dari meristem apical yang terpisah dari ujung
(apeks) selama pertumbuhan. Meristem interkalar (antara) terdapat diantara
jaringan dewasa, misalnya di pangkal ruas batang rumput. Meristem lateral
terdapat pada cambium pembuluh dan cambium gabus.
Berdasarkan asal terbentuknya,
meristem dibedakan menjadi meristem primer dan meristem sekunder.
1. Meristem Primer
Meristem primer adalah meristem yang
berkembang dari sel embrional. Meristem primer terdapat misalnya pada kuncup
ujung batang dan ujung akar. Meristem primer menyebabkan pertumbuhan primer
pada tumbuhan. Pertumbuhan primer memungkinkan akar dan batang bertambah
panjang dengan demikian, tumbuhan bertambah tinggi. Meristem primer dapat
dibedakan menjadi daerah-daerah dengan tingkat perkembangan sel yang berbeda-beda.
Pada ujung batang terdapat meristem apical. Didekat meristem apical ada
promeristem dan ujung meristematik lain yang terdiri dari sekolompok sel yang
telah mengalami diferensiasi sampai tingkat tertentu. Daerah meristematik di
belakang promeristem mempunyai tiga jaringan meristem yaitu protoderma,
prokambium, dan meristem dasar. Protoderma akan membentuk epidermis, prokambium akan
membentuk jaringan ikatan pembuluh (xilem primer dan floem primer) dan kambium.
Meristem dasar akan membentuk jaringan dasar tumbuhan yang mengisi empelur dan
korteks seperti parenkima, kolenkima, dan sklerenkima. Tumbuhan monokotil hanya
memiliki jaringan primer dan tidak memiliki jaringan sekunder. Pada tumbuhan
dikotil terdapat jaringan primer dan jaringan sekunder.
2.
Meristem Sekunder
Meristem sekunder adalah
meristem yang berkembang dari jaringan dewasa yang telah mengalami diferensiasi
dan spesialisasi (sudah terhenti pertumbuhannya) tetapi kembali bersifat
embrional. Contoh meristem sekunder adalah kambium gabus yang terdapat pada
batang dikotil dan Gymnospermae, yang dapat terbentuk dari sel-sel korteks di
bawah epidermis.
Jaringan
kambium yang terletak di antara berkas pengangkut (xilem dan floem) pada batang
dikotil merupakan meristem sekunder. Sel kambium aktif membelah, ke arah dalam
membentuk xilem sekunder dan ke luar membentuk floem
sekunder. Akibatnya, batang tumbuhan dikotil bertambah besar. Sebaliknya
batang tumbuhan monokotil tidak mempunyai meristem sekunder sehingga tidak
mengalami pertumbuhan sekunder. Itulah mengapa batang monokotil tidak dapat
bertambah besar.
b. Jaringan Dewasa
Jaringan dewasa merupakan jaringan
yang terbentuk dari diferensiasi dan spesialisasi sel-sel hasil pembelahan
jaringan meristem. Diferensiasi adalah perubahan bentuk sel yang disesuaikan
dengan fungsinya, sedangkan spesialisasi adalah pengkhususan sel untuk
mendukung suatu fungsi tertentu. Jaringan dewasa pada umumnya sudah tidak
mengalami pertumbuhan lagi atau sementara berhenti pertumbuhannya. Jaringan dewasa
ini ada yang disebut sebagai jaringan permanen. Jaringan permanen adalah
jaringan yang telah mengalami diferensiasi yang sifatnya tak dapat balik (irreversibel).
Pada jaringan permanen sel-selnya tidak lagi mengalami pembelahan. Jaringan
dewasa meliputi jaringan epidermis, gabus parenkima, xilem, dan floem. Selain
itu ada bagian tumbuhan tertentu yang memiliki jaringan kolenkima dan
sklerenkima.
1. Epidermis
Jaringan epidermis ini
berada paling luar pada alat-alat tumbuhan primer seperti akar, batang daun,
bunga, buah, dan biji. Epidermis tersusun atas satu lapisan sel saja. Bentuknya
bermacam-macam, misalnya isodiametris yang memanjang, berlekuk-lekuk, atau
menampakkan bentuk lain. Epidermis tersusun sangat rapat sehingga tidak
terdapat ruangan-ruangan antarsel. Epidermis merupakan sel hidup karena masih
mengandung protoplas, walaupun dalam jumlah sedikit. Terdapat vakuola yang
besar di tengah dan tidak mengandung plastida.
a. Jaringan epidermis daun
Jaringan epidermis daun
terdapat pada permukaan atas dan bawah daun. Jaringan tersebut tidak
berklorofil kecuali pada sel penjaga (sel penutup) stomata. Pada permukaan atas
daun terdapat penebalan dinding luar yang tersusun atas zat kuting (turunan
senyawa lemak) yang dikenal sebagai kutikula, misalnya pada daun nangka. Selain
itu ada yang membentuk lapisan lilin untuk melindungi daun dari air, misalnya
pada daun pisang dan daun keladi. Ada pula yang membentuk bulu-bulu halus di
permukaan bawah sebagai alat perlindungan, misalnya pada daun durian. Sekelompok
sel epidermis membentuk stomata atau mulut daun. Stomata merupakan
suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup atau sel penjaga.
Melalui mulut daun ini terjadi pertukaran gas.
b. Jaringan epidermis batang
Seperi halnya jaringan epidermis
daun, jaringan epidermis batang ada yang mengalami modifikasi membentuk lapisan
tebal yang dikenal sebagai kutikula, membentuk bulu sebagai alat perlindungan.
c. Jaringan epidermis akar
Jaringan epidermis akar
berfungsi sebagai pelindung dan tempat terjadinya difusi dan osmosis. Epidermis
akar sebagian bermodifikasi membentuk tonjolan yang disebut rambut akar dan
berfungsi untuk menyerap air tanah.
Stomata
adalah celah yang terdapat pada epidermis organ tumbuhan. Pada semua tumbuhan
yang berwarna hijau, lapisan epidermis mengandung stomata paling banyak pada
daun. Stomata terdiri atas bagian-bagian yaitu sel penutup, bagian celah, sel
tetangga, dan ruang udara dalam. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik
yang menyebabkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah. Sel penutup
dapat terletak sama tinggi dengan permukan epidermis (panerofor) atau lebih
rendah dari permukaan epidermis (kriptofor) dan lebih tinggi dari permukaan
epidermis (menonjol). Pada tumbuhan dikotil, sel penutup biasanya berbentuk
seperti ginjal bila dilihat dari atas. Sedangkan pada tumbuhan rumput-rumputan
memiliki struktur khusus dan seragam dengan sel penutup berbentuk seperti
halter dan dua sel tetangga terdapat masing-masing di samping sebuah sel
penutup.
2. Jaringan Gabus
Jaringan gabus atau periderma adalah
jaringan pelindung yang dibentuk untuk menggantikan epidermis batang dan akar
yang telah menebal akibat pertumbuhan sekunder. Jaringan gabus tampak jelas pas
tetumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Struktur
jaringan gabus terdiri atas felogen (kambium gabus) yang akan membentuk felem
(gabus) ke arah luar dan feloderma ke arah dalam. Felogen dapat dihasilkan oleh
epidermis, parenkima di bawah epidermis, kolenkima, perisikel, atau parenkima
floem, tergantung spesies tumbuhannya. Pada penampang memanjang, sel-sel
felogen berbentuk segi empat atau segi banyak dan bersifat meristematis.
Sel-sel gabus (felem) dewasa berbentuk hampir prisma, mati, dan dinding selnya
berlapis suberin, yaitu sejenis selulosa yang berlemak. Sel-sel feloderma
menyerupai sel parenkima, berbentuk kotak dan hidup. Jaringan gabus berfungsi
sebagai pelindung tumbuhan dari kehilangan air. Pada tumbuhan gabus (Quercus
suber), lapisan gabus dapat bernilai ekonomi, misalnya untuk tutup botol.
3.
Parenkima
Di
sebelah dalam epidermis terdapat
jaringan parenkima. Jaringan ini terdapat mulai dari sebelah dalam epidermis
hingga ke empulur. Parenkima tersusun atas sel-sel bersegi banyak. Antara sel
yang satu dengan sel yang lain terdapat ruang antarsel.
Parenkima
disebut juga jaringan dasar karena menjadi tempat bagi jaringan-jaringan yang
lain. Parenkima terdapat pada akar, batang, dan daun, mengitari jaringan
lainnya. Misalnya pada xilem dan floem.
Selain
sebagai jaringan dasar, jaringan parenkima berfungsi sebagai jaringan penghasil
dan penyimpan cadangan makanan. Contoh parenkima penghasil makanan adalah
parenkima daun yang memiliki kloroplas dan dapat melakukan fotosintesis.
Parenkima yang memiliki kloroplas disebut sklerenkima. Hasil-hasil fotosintesis berupa gula diangkut ke
parenkima batang atau akar. Di parenkima batang atau akar, hasil-hasil
fotosintesis tersebut disusun menjadi bahan organik lain yang lebih kompleks,
misalnya tepung, protein, atau lemak. Parenkima batang dan akar pada beberapa
tumbuhan berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan, misalnya pada ubi jalar (Ipomoea
batatas). Ada pula sel parenkima yang menyimpan cadangan makanan pada
katiledon (daun lembaga biji) seperti pada kacang buncis (Phaseolus vulgaris).
4. Jaringan Penguat
Untuk
memperkokoh tubuhnya, tumbuhan memerlukan jaringan penguat atau penunjang yang
disebut juga sebagai jaringan mekanik. Ada dua macam jaringan penguat pegat
yang menyusun tubuh tumbuhan, yaitu kolenima dan sklerenkima.
Kolenkima mengandung protoplasma dan dindingnya tidak mengalami signifikasi.
Sklerenkima berbeda dari kolenkima, karena sklerenkima tidak mempunyai
protoplasma dan dindingnya mengalami penebalan dan zat lignin (lignifikasi).
a. Kolenkima
Sel kolenkima merupakan sel hidup dan
mempunyai sifat mirip parenkima. Sel-selnya ada Yat mengandung kloroplas.
Kolenkima umumnya terletak di dekat perukaan dan di bawah epidermis pada
batang, tangkai daun, tangkai bunga, dan ibu tulang daun. Kolenkima jarang
terdapat pada akar. Sel kolenkima biasanya memanjang sejajar dengan pusat organ
tempat kolenkima itu terdapat.
Dinding
sal kolenkima mengandung selulosa, pektin, dan hemiselulosa. Dinding sel
kolenkima mengalami penebalan yang tidak merata. Penebalan itu terjadi pada
sudut-sudut sel, dan disebut kolenkima sudut.
Fungsi
jaringan kolenkima adalah sebagai penyokong pada bagian tumbuhan muda yang
sedang tumbuh dan pada tumbuhan herba.
b. Sklerenkima
Jaringan sklerenkima terdiri atas sel-sel
mati. Dinding sel sklerenkima sangat kuat, tebal, dan mengandung lignin
(komponen utama kayu). Dinding sel mempunyai penebalan primer dan kemudian
penebalan sekunder oleh zat lignin. Menurut bentuknya, sklerenkima dibagi
menjadi dua, yaitu serabut sklerenkima yang berbentuk seperti
benang panjang, dan sklereid (sel batu). Sklereid terdapat
pada berkas pengangkut, di antara sel-sel parenkima, korteks batang, tangkai
daun, akar, buah, dan biji. Pada biji, sklereid sering kali merupakan suatu
lapisan yang turut menyusun kulit biji.
Fungsi
sklerenkima adalah menguatkan bagian tumbuhan yang sudah dewasa. Sklerenkima
juga melindungi bagian-bagian lunak yang lebih dalam, seperti pada kulit biji
jarak, biji kenari dan tempurung kelapa.
5. Jaringan Pengangkut
a. Xilem
Xilem berfungsi untuk menyalurkan air dan
mineral dari akar ke daun. Elemen xilem terdiri dari unsur pembuluh, serabut
xilem, dan parenkima xilem. Unsur pembuluh ada dua, yaitu pembuluh kayu
(trakea) dan trakeid. Trakea dan trakeid merupakan sel mati, tidak memiliki
sitoplasma dan hanya tersisa dinding selnya. Sel-sel tersebut bersambungan
sehingga membentuk pembuluh kapiler yang berfungsi sebagai pengangkut air dan
mineral. Oleh karena pembuluh yang membentuk berkas, maka dikatakan sebagai
berkas pembuluh. Diameter xilem bervariasi tergantung pada spesies tumbuhan,
tetapi biasanya 20-700 ยตm. Dinding xilem mengalami penebalan zat lignin.
Trakea merupakan bagian yang terpenting pada xilem
tumbuhan bunga, trakea terdiri atas sel-sel berbentuk tabung yang berdinding
tebal karena adanya lapisan selulosa sekunder dan diperkuat lignin, sebagai
bahan pengikat. Diameter trakea biasanya lebih besar daripada diameter trakeid.
Ujung selnya yang terbuka disebut perforasi atau lempeng perforasi. Trakea hanya terdapat pada Angiospermae
(tumbuhan berbiji tertutup) dan tidak terdapat pada Gymnospermae (tumbuhan
berbiji terbuka) kecuali anggota Gnetaceae (golongan melinjo). Bagian trakeid
dapat dibedakan dari trakea karena ukurannya lebih kecil, walaupun dinding selnya
juga tebal dan berkayu. Rata-rata diameter trakeid ialah 30 ยตm dan panjangnya
mencapai beberapa milimeter. Trakeid terdapat pada semua tumbuhan
Spermatophyta. Pada ujung sel trakeid terdapat lubang seperti saringan.
b. Floem
Floem berfungsi menyalurkan zat makanan
hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan. Pada umumnya elemen
floem disusun oleh unsur-unsur tapis, sel pengiris, serabut floem, sklereid,
dan parenkima floem. Unsur utama adalah pembuluh tapis dan parenkima floem.
Parenkima floem berfungsi menyimpan cadangan makanan. Persebaran serabut floem
sering kali sangat luas dan berfungsi untuk memberi sokongan pada tubuh
tumbuhan.
Pembuluh
tapis terdiri atas sel-sel berbentuk silindris dengan diameter 25 ยตm dan
panjang 100-500 ยตm. Pembuluh tapis mempunyai sitoplasma tanpa inti. Dinding
sel komponen pembuluh tapis tidak berlignin sehingga lebih tipis daripada
trakea. Pembuluh tapis adalah pembuluh angkut utama pada jaringan floem.
Pembuluh ini bersambungan dan meluas dari pangkal sampai ke ujung tumbuhan.
(Hadi, 2015)
2.2 Batang Dikotil Berkayu
Potongan melintang melalui ranting muda
pohon tulip (Liriodendron tulipifera)
merupakan contoh yang baik mengenai penataan jaringan pada dikot berkayu yang
khas. Ranting ini dibagi menjadi tiga daerah yang berbeda, pepagan (kulit),
kayu, dan empelur. Bagian luar daerah
pegannya dilindungi oleh lapisan
sel-sel gabus yg mati yang dijejali suberin. Suberin ialah bahan seperti malam
yang dengan nyata mengurangi hilangnya air dari batang. Sangat kaya lubang,
yaiutu lentisel, terdapat dalem gabus dan melalui lubang-lubang inilah oksigen
dan karbon dioksida dapat dipertukarkan diantara jaringan batang dan udara.
Dibawah gabus terdapat lapisan sel-sel parenkim yang menyusun korteks. Sel-sel
ini meyimpan makanan sebagaimana juga di akar. Dalam batang yang amat muda
(sebelum gabusnya berkembang) sel-sel itu mungkin berkloroplas dan melakukan
fotosintesis. Dalam batang yang lebih tua ada meristem yang berkembang diantara
korteks dan gabus. Mitosis dalam meristem ini (cambium gabus) menggantikan
sel-sel gabus yang aus karena termakan cuaca.
Bagian dalam gabus itu ditandai daerah
jaringan floem dan parenkim secara berselang-seling. Parenkim merupakan bagian
akhir pada jejari horizontal yang ada diantara empulur dan pepagan. Jejari ini
melakukan tranfor lateral bahan-bahan antara kedua daerah tersebut. Bagian
diperbesar dalam pepagan juga berfungsi sebagai daerah cadangan makanan.
Jaringan floem terdiri dari berkas-berkas tabung lapisan yang di kelilingi oleh
dan di perkuat sel-sel sklerenkim.
Bagian batas dalam daerah pepagan di
tandai meristem, yakni cambium. Karena kegiatannya, maka selalu terbentuk floem
baru di daerah papagan selama musim tumbuh. Cambium juga membentuk xylem baru
kearah dalam. (Sugiri. 1983)
2.3
Pengertian Jaringan Gabus
Jaringan gabus (kambium gabus) merupakan kelompok meristem
sekunder yang terbentuk dari sel – sel parenkim korteks bagian luar batang.
Aktivitas kambium gabus membentuk lapisan sel yang mengalami penebalan oleh
senyawa suberin / gabus yang tidak tembus oleh air. Lapisan gabus yang
terbentuk dari felogen tersusun rapat dengan lapisan lilin yang siap
menggantikan epidermis yang terkelupas akibat aktivitas kambium vaskular.
Lapisan ini disebut dengan periderm.
2.4 Ciri-ciri Jaringan Gabus
Jaringan gabus memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Tersusun atas sel – sel hidup kemudian mati
Lapisan gabus terbentuk dari aktivitas
felogen (kambium gabus) yang merupakan meristem sekunder. Felogen membentuk
felem ke arah luar, dan feloderm ke arah dalam. Felogen tersusun atas sel – sel
hidup, sementara felem merupakan sel –sel yang mati. Felem ini lah yang akan
menjadi lapisan gabus pada tumbuhan dikotil.
2. Susunan selnya rapat
Susunan jaringan gabus yang akan
membentuk periderm memiliki ciri yang mirip dengan epidermis, yakni sel –
selnya tersusun rapat. Hal ini berkaitan dengan fungsi yang akan diemban oleh
periderm, menggantikan epidermis yang mengelupas sebagai pelindung tumbuhan.
3. Dinding sel mengalami penebalan oleh zat suberin
Jaringan gabus terbentuk dari kambium
gabus yang merupakan sel – sel merismatik berdinding tipis. Kemudian sel- sel
yang terbentuk ini akan mengalami penebalan dinding selnya oleh senyawa suberin
dan kemudian menjadi sel mati. Senyawa suberin (lilin) ini memiliki sifat tak
tembus oleh air, sehingga sangat menguntungkan bagi tumbuhan karena dapat
mencegah penguapan.
2.5 Fungsi Jaringan Gabus
Jaringan
gabus memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Menggantikan
epidermis sebagai pelindung
Lapisan
epidermis terbentuk dari pembelahan meristem primer. lapisan epidermis
berfungsi sebagai pelindung tumbuhan. namun demikian aktivitas meristem
sekunder (kambium) menyebabkan ukuran batang menjadi bertambah. hal demikian
membuat lapisan epidermis yang hanya selapis menjadi pecah dan akhirnya
mengelupas. peran pelindung yang diemban oleh epidermis akan digantikan oleh
jaringan gabus yang terbentuk dari kambium gabus yang terletak di sisi luar
korteks batang. kambium gabus merupakan sel – sel parenkim yang bersifat
merismatik. aktivitas kambium gabus menghasilkan sel –sel yang mengalami
penebalan oleh suberin menjadi lapisan periderm yang berfungsi menggantikan
epidermis sebagai pelindung.
2. Mencegah penguapan
Lapisan
gabus yang mengalami penebalan oleh zat suberin sangat berarti dalam
menjalankan fungsinya sebagai pelindung, terutama dari penguapan. kehilangan
air melalui penguapan kerap terjadi pada tumbuhan akibat paparan matahari.
karakter zat suberin (lilin) yang tak tembus air membuat air terperangkap di
dalam tumbuhan, hal ini sangat menguntungkan bagi tumbuhan terutama tumbuhan
yang hidup di daerah kering atau pada saat musim panas.
3. Melindungi dari
kerusakan mekanis dan infeksi patogen
Lapisan
epidermis yang telah mengelupas akibat pertumbuhan sekunder tak perlu
dirisaukan, keberadaan jaringan gabus dapat diandalkan untuk menggantikan
lapisn epidermis. dengan penebalan dinding oleh suberin, membuat lapisan
jaringan gabus dapat melindungi dari kerusakan mekanis dan juga infeksi patogen
yang dapat menyerang tubuh tumbuhan. (Kakak. 2010)
BAB III
METEDOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum tentang “ Pengamatan Sel
Gabus pada Batang Singkong” ini dilaksanakan pada hari Senin, 10 Oktober 2016
pukul 13:00 s/d 14:30 dan bertempat di Laboratorium Bioteknologi
Agroekoteknologi, Fakultas Pertania, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang kita gunakan pada
praktikum ini antaralain yaitu, aquades, mikroskop elektrik, preparat, pipet
tetes, batang singkong, dan cutter
3.2 Cara Kerja
1.
Disiapkan alat dan bahan
2. Potong batang singkong dengan arah
membujur
3. Buat preparat batang singkong membujur
4. Amati dengan mikroskop
5. Potong batang singkong dengan arah
melintang
6. Buat preparat batang singkong melintang
7. Amati dengan mikrosop
8. Gambarkan hasi pengamatan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1.1 Hasil pengamat sel gabus pada
batang singkong
|
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
1.
|
Melintang
|
Perbesaran 4 x
0,10
Bentuk yang di
dapat yaitu pentagonal
Bagian yang
terlihat yaitu hanya dinding sel
|
|
2.
|
Membujur
|
Perbesaran 4 x
0,10
Bentuk yang di
dapat yaitu Coccus
Bagian yang
terlihat yaitu hanya dinding sel
|
4.2 Pembahasan
Sel gabus adalah sel yang sudah mati, tidak memiliki
aktifitas, oleh karena itu sel gabus hanya berwarna hitam dan putih. Bentuk sel
gabus terdiri dari coccus, pentagonal, dan heksagonal. Tergantung pada cara
kita memotongnya. Bagian sel gabus yang terlihat pada mikroskop dengan
perbesaran 4 x 0,10 hanya diding sel, sementara bagian yang lain kosong.
Sayat gabus singkong setipis mungkin
secara melintang dan mebujur. Kemudian letakan sayatan pada kaca preparat dan
tetesi dengan aquades menggunakan pipet. Letakan preparat dibawah mikroskop
kemudian amati, setelah diamati hasil yang didapat dari irisan melintang yaitu
pentagonal, sedangkang yang membujur yaitu coccus. Percobaan satu dan dua
menggunakan perbesaran yang sama yaitu dengan perbesaran 4 x 0,10.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Simpulan
Setelah melaksanakan
praktikum ini, saya dapat menyimpulkan bahwa, sel gabus yang diiris secara
melintang akan berbeda bentuknya dengan sel gabus yang diiris secara membujur.
Sel gabus juga tidak berwarna atau hanya warna hitam dan putih, karena sel
gabus merupakan sel yang mati.
5.2
Saran
Agar ingin mendapatkan
hasil yang jelas, ada baiknya pada saat kita iris bagian sel gabus pada
singkong usahakan setipis mungkin. Supaya hasil yang akan tampak pada mikroskop
jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, Diah.,dkk.Biologi 2. From
https://books.google.co.id/books?id=S29qVUvoU1oC&pg=PT40&dq=sel+
gabus &hl=en&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=sel%20gabus&f=false
Hadi,Abdul.2015.Struktur dan fungsi jaringan
Diakses pada tanggal 15 Oktober 2016, pukul 12:11
Indasari,
Ica Nur., J. Djoko Budiono., Wisanti.2013. Wenter
Sebagai Warna
Alternatif Dalam Pewarnaan Media Preparat Jaringan Batang dan
AkarTumbuhan
Pletekan (Ruellia sp.)dan Beluntas (Pluchea
indica.Biologi.
Vol 2 No 1 Hal 35
Kimball, John W. Biologi. Terj. H Siti Soetarmi Tjitrosomo., Nawangsari Sugiri.
Jakarta :Erlangga. 1983
Pintar,Kakak.2010.Fungsi Jaringan Gabus.
lengkap/. Diakses pada tanggal 14 Oktober 2016 pukul 10:42